Scooter Belitong Besedare, Cerita Skuteris dari Pulau Belitung

Setiap skuteris selalu punya cerita, tidak hanya personal tapi juga komunitasnya. Selalu ada cerita yang khas di balik setiap komunitas, seperti cerita dari skuteris Belitong yang diceritakan Ian soebagio kepada Vespapora.com.

Ian dan skuteris pulau Belitong mungkin tak sama dengan skuteris yang ada di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan pulau lain. Yang bikin beda, mereka selalu haus event-event vespa di luar pulau, karena harus bepergian melintas laut dan tentu bikin kantong menipis. Ian sendiri sebelumnya sempat aktif di komunitas area Lampung, Balaraja, Purbalingga dan Malang, sebelum akhirnya menetap di negeri laskar pelangi dan bergabung di Scooter Belitung Besedare.

Kali pertama Ian datang ke Belitung sekitar 20 tahun lalu, tak banyak komunitas vespa di kota timah ini. Hanya ada dua club dan belum lama terbentuk. Dengan semangat skuteris yang selama ini ada di darahnya, Ian pun coba mulai mengumpulkan mereka yang suka vespa, meracuni mereka dengan beragam kelebihan si besi tua. Club pun terbentuk, dari sekitar 5 orang yang mengawali touring ringan ke pantai Tanjong Kelayang, akhirnya anggota club bertambah.

Anggota pun bertambah, saat ada event TSSS (Temu Scooterist Serumpun Sebalai) dari yang awalnya hanya 5 orang kini menjadi 50 orang. Kala itu logo club pun dibuat seadanya, hanya sekitar 5 menit tapi begitu berarti dan logo yang berarti ‘vespa dari Itali hadir di Indonesia dan terlahirlah kami di pulau Belitong’, menjadi simbol awal persaudaraan club Scooter Belitong Besedare.

Dengan bertambahnya anggota, club akhirnya membuat logo baru dan mendeklarasikan identitas club pada 5 Mei 2018 dengan mengadakan kemping di pantai Tanjung Tinggi sebagai event simbolis bawah Scooter Belitong Besedare bisa menjadi pelopor untuk saling bersilatuirahmi mempererat persaudaraan khususnya scooterist di kota Belitong dan di Indonesia. Semoga tetap solid dan menjadikan Pulau Belitong surganya skuteris.

Salam damai dari Pulau Belitung!

Artikel dioleh dari cerita Ian soebagio.

Bu Guru Rucke Rukmawati Keliling Indonesia Naik Vespa

Naik Vespa Keliling IndonesiaHari-hari ini hingga ke Lebaran nanti adalah hari-hari yang sibuk bagi Rucke Rukmawati. Berkeliling mengumpulkan donasi, menyetel Vespa, dan menyiapkan onderdil, selain tentu saja jadwal tetapnya mengajar.

Maklum, selepas Lebaran, bersama suami, Cakra Budi, guru seni rupa SMAN 15 Bandung itu bakal mewujudkan impian touring ke Papua. “Mudah-mudahan bisa terlaksana,” kata perempuan 57 tahun tersebut kepada Jawa Pos yang menemuinya di kediamannya di Bandung Senin lalu (30/4).

Kalau betul terlaksana, artinya, perempuan 57 tahun itu sudah menjelajah wilayah paling barat dan ujung timur Indonesia. Sebab, 18 tahun silam, dia sudah lebih dulu touring ke Aceh pada Desember 2017.

Dan, di antara kurun waktu itu, dia juga menjelajah berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Semua dengan motor.

“Semua jenis motor sudah saya coba. Kami sekeluarga memang suka naik motor dari dulu,” kata ibu dua anak yang akrab disapa Mabu (Mamah Ibu) tersebut.

Bisa jadi Mabu adalah satu-satunya ibu guru di tanah air dengan hobi “seekstrem” itu. Di usia yang juga sudah tidak lagi muda.

Tapi, touring mengendarai motor memang sudah mendarah daging baginya. Telah dilakukannya jauh sebelum menikah. Sampai dia lupa kapan persisnya tur pertamanya.

Padahal, jadwalnya sebagai guru juga padat. Di rumahnya pada Senin siang lalu itu, misalnya, Mabu tengah menyortir puluhan lukisan hasil karya siswa untuk dipamerkan Itu bagian dari tugasnya sebagai guru seni rupa. Selain tentu saja kewajiban harus mengajar di kelas.

Karena itulah, touring biasa dia lakukan hanya saat libur panjang. Agar tak sampai meninggalkan kewajiban mengajar. “Kalau pas nggak libur panjang, paling hanya keliling kota atau tempat yang dekat-dekat saja.”

Di pelataran rumah yang asri di kawasan Buah Batu, Bandung, itu tampak pula 12 Vespa berjejer. Seluruhnya milik Mabu seke­luarga. Dari yang paling tua keluaran 1961 sampai yang terbaru rilisan tahun lalu.

Sejak sepuluh tahun lalu, untuk urusan motor, Mabu dan suami memang tak bisa berpaling ke lain hati. Hanya Vespa. Yang kemudian menular kepada kedua anak lelakinya. Tapi, kecintaan kepada Vespa itu tidak datang tiba-tiba. Bahkan, Mabu sempat melarang ketika suaminya berniat membeli Vespa.

“Pas pertama beli, suaranya kencang bener, terus asap knalpotnya tebel bener. Olinya netes ke mana-mana,” ungkapnya.

Mabu pun sempat meminta sang suami menjualnya kembali. Tapi, sang suami memutuskan membawanya ke bengkel. Dan, voila, sebulan kemudian, Mabu justru jatuh hati kepada si Vespa yang catnya telah berganti jadi ungu.

“Jadi bagus dan enak dikendarai. Karena warnanya ungu, akhirnya dipanggil unyu,” katanya, lantas tersenyum.

Saat berkeliling Aceh pada Desember tahun lalu sendirian, Vespa pula yang dikendarai Mabu. Persisnya jenis VBB 1964. “Pas sebelumnya ada gempa di daerah Pidie. Jadi, bawa sedikit bantuan ke sana,” terang dia.

Itulah salah satu alasan yang membuat Mabu doyan touring: kesempatan untuk berbagi atau menebar kebaikan. Ke mana pun dia tur, baik sendiri, dengan suami dan anak, maupun dengan komunitas Vespa, sebisanya dia membawa apa saja yang mungkin berguna di daerah tujuan.

“Minimal saya bawa mukena yang biasanya, lantas saya tinggal di masjid yang saya sambangi,” katanya.

Karena itulah, sebelum keberangkatan ke Papua setelah Lebaran nanti, dia giat mengumpulkan donasi. Terutama berupa seragam dan peralatan sekolah.

“Apa saja yang mungkin bermanfaat bagi daerah-daerah yang saya singgahi bersama suami nanti,” katanya.

Kecintaannya kepada touring dengan bersepeda motor tumbuh karena sejak kecil dia menyukai kegiatan luar ruang. Apa­lagi, setelah menikah, sang suami mendukung penuh kegiatannya tersebut.

Menurut dia, bersepeda motor membuatnya bisa menikmati pemandangan secara bebas. “Indonesia ini banyak sekali tempat indah yang bisa dinikmati sambil melakukan hal positif di tempat tersebut,” katanya.

Tempat mana yang paling mengesankan? “Semua,” katanya. Meski kadang menemui pengalaman yang menurut banyak orang mungkin menakutkan.

Di Mesuji, Lampung, misalnya. Suatu hari saat singgah di sana, Mabu harus mendinginkan motor yang biasanya butuh waktu dua-tiga jam.

Berhentilah dia di jalan yang sepi. Hanya satu dua mobil yang melintas. Mendadak ada seorang pria mendekat sembari membawa celurit.

Karena tak curiga, Mabu yang bepergian sendirian terus saja asyik memotret sekitarnya. Pria tersebut terus saja bolak-balik. “Ya, saya sapa. Dia juga balik menegur dengan pandangan yang terlihat aneh. Tapi, kemudian dia berlalu,” kenangnya.

Ketika dia kemudian menceritakan pengalaman tersebut kepada kawan-kawan sekomunitasnya, Mabu baru sadar bahwa kawasan tempat dia berhenti itu rawan begal. “Tapi, saya dari awal memang nggak ada pikiran curiga,” katanya.

Sesekali dia juga mengalami masalah dengan VBB 1964-nya. Namun, selalu ada saja kawan-kawan dari komunitas Vespa di kota yang disinggahi yang mengulurkan tangan untuk membantu.

Agar lebih siap menghadapi masalah dengan motor kesayangannya, Mabu pun perlahan belajar mengenai Vespa. Selama ini dia langsung belajar dari ahlinya, yaitu montir yang biasa dia panggil ke rumah.

“Awalnya bantuin montir. Sekarang montir datang, yang perbaikin saya hehehe.”

Di usia yang tak lama lagi mencapai kepala enam, Mabu mengaku tak tahu sampai kapan akan terus touring. Yang pasti, selama masih kuat, dia akan tetap melakukannya.

“Mudah-mudahan juga masih bisa terus keliling Indonesia pakai Vespa,” harapnya.

sumber: Jawapos

Vespa dengan BBM dari Limbah Plastik

bbm vespaBerawal dari keresahan soal limbah plastik, seorang pecinta vespa sukses menemukan metode mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar vespa. Uji coba perjalanan vespa berbahan bakar limbah plastik pun sudah dilakukan. Adalah Dimas Bagus Wijanarko, 42 tahun, yang resah bahwa Indonesia adalah negara dengan penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok.

Dalam satu tahun, ada 180 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut. Hal itu membuatnya Dimas merasa tak nyaman dan menggugah daya inovatifnya. Maka sejak, 2014 ia mulai riset dan total mengabdikan diri untuk upaya pengurangan sampah plastik. Menurut Dimas, ada banyak cara untuk mengolah sampah plastik.

Namun metode yang dia kembangkan cukup efektif untuk menghilangkan sampah yang paling sulit terurai itu. “Plastik yang dibuat di Indonesia itu 80 hingga 85 persen adalah minyak. Sisanya itu black carbon atau microplastik. Makanya proses penguraiannya lama karena sebagian besarnya minyak. Sementara itu fossil itu butuh waktu ratusan tahun untuk jadi minyak lagi,” paparnya. Ya, bagi Dimas, limbah plastik terbukti bisa berguna.

Limbah plastik menjadi bahan bakar bagi vespa tua miliknya. Untuk membuktikan, ia bersama sejumlah rekan mengendarai vespa berbahan bakar limbah plastik dari Jakarta menuju ke Bali. Vespa tua dan tingkahnya yang unik mengundang rasa penasaran setiap warga yang dilaluinya. Demikian juga saat tiba di Kota Bandung, Senin (21/5).

Dan di kota kembang ini ia diterima dengan baik bahkan menggelar workshop bagaimana mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar bagi vespa miliknya itu. Didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, workshop singkat dilakukan di halaman kantor DLHK Jalan Sadang Tengah Kecamatan Coblong.

Dimas bersama komunitas Get Plastik (Gerakan Tarik Plastik) lantas mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Peralatan yang dibawanya terbilang sederhana, hanya serangkaian pipa yang terhubung dengan tabung vakum bertekanan tinggi. Tabung tersebut tersambung dengan gas elpiji yang akan berfungsi sebagai pemanas.

Segumpal sampah plastik yang telah disiapkan masuk ke dalam tabung vakum. Tabung itu dipanaskan hingga mencapai 400 derajat Celcius. Lima menit kemudian, tetesan-tetesan minyak murni keluar dari pipa setelah melewati proses pendinginan pada temperatur normal. Dengan teknik distilasi bertingkat itu sampah plastik berubah menjadi bahan bakar.

Metode yang digunakan adalah pirolisis, yakni proses dekomposisi termokimia bahan organik melalui pemanasan tanpa menggunakan oksigen, atau dengan kadar oksigen sesedikit mungkin. Metode ini hanya menghasilkan residu berupa black carbon atau arang yang dapat dengan mudah terurai secara organik, serta gas propylene yang tidak berbahaya.

Riset Empat Tahun

Dimas tidak memiliki latarbelakang pendidikan terkait apa yang dilakukannya saat ini atauapun bekerja sebagai seorang teknisi. Namun diakuinya , selama empat tahun ia terus melakukan percobaan dan riset kecil. Semua pengetahuannya didapatkan hanya dari melihat internet dan membaca buku.

Tidak menyebutkan berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat peralatannya. Namun menurutnya masih sangat murah. Apalagi bahan plastik mudah didapat di sepanjang perjalanan. “Metode pengubahan bahan plastik menjadi bahan bakar ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Saya hanya merakit kembali dan menggunakannya untuk mengampanyekan pengurangan sampah plastik,” jelasnya.

Dengan mengubahnya menjadi bahan bakar, ia beranggapan bahwa sampah ini akan bernilai ekonomi jika dilakukan penelitian lebih serius. Namun bagi Dimas, yang terpenting saat ini adalah mengurangi sampah itu agar tidak terus menumpuk. Dalam prosesnya, minyak yang dihasilkan dari hasil distilasi ini bisa berupa solar, premium, maupun minyak tanah.

Kendati begitu, nilai oktan yang terdapat pada hasil distilasi ini belum sama dengan standar yang diberlakukan oleh Pertamina. “Ini nilai oktannya hanya 82, di bawah premium. Tapi bilangan oktan tidak mempengaruhi kinerja karena mesin vespa pakai dua tak,” tuturnya. Usai mempraktekkan metode distilasi di Bandung, Dimas langsung bertolak ke Rajagaluh, Majalengka.

Melewati 15 titik pemberhentian, Dimas dijadwalkan akan tiba di Bali pada tanggal 30 Juni 2018. Sekretaris DLHK Kota Bandung Dedi Dharmawan mengapresiasi karya Dimas itu. Menurutnya, jika alat ini digunakan di tiap RW, ia percaya sampah plastik akan habis di tempat. Ia melihat bahwa persoalan sampah plastik di Kota Bandung pun sudah sangat serius.

Sebanyak 40 persen sampah Kota Bandung adalah sampah anorganik yang sebagian besarnya adalah plastik. “Jikalau ini diterapkan oleh kewilayahan oleh RW-RW saja, ini akan sangat bermanfaat, bisa untuk bahan bakar memasak dan lain-lain,” tuturnya.

sumber: koran jakarta

Lambretta Siapkan Produk Premium Saingi Vespa Sprint

Lambretta, Ikon skuter merek Italia, merayakan ulang tahun ke 70 pada tahun 2017. Untuk memperingati kesempatan itu, Lambretta memperkenalkan model V Special. CarandBike melaporkan bahwa Lambretta sedang mengerjakan skuter listrik baru yang akan diluncurkan pada 2018.

Laporan ini juga menyatakan bahwa Lambretta akan meluncurkan tiga model baru di Australia yang akan diikuti oleh skuter listrik baru. Lambretta V Special tersedia dalam tiga varian: V50, V125 dan V200. Pada 2019, Lambretta juga diperkirakan akan meluncurkan skuter 400cc.

Lambretta V Model khusus telah dirancang oleh perusahaan desain Austria KISKA, yang juga mendesain sepeda KTM baru dan Husqvarna Svartpilen dan Vitpilen. Lambretta V Special menampilkan desain klasik khas dengan perpaduan sentuhan modern.

Lambretta V Model khusus menampilkan bodi baja, spatbor depan tetap klasik, dan lambang Lambretta yang ikonik. Lambretta V Special model tersedia dengan tiga pilihan mesin: 50cc, 125cc dan 200cc. Perusahaan juga berencana untuk meluncurkan skuter Lambretta GP dan SX klasik.

Lambretta V Model khusus dilengkapi dengan sejumlah fitur premium seperti headlamp LED, lampu belakang dan indikator sein, rem cakram 220mm di bagian depan, soket pengisian 12-volt dan garpu teleskopik. Varian 200cc juga mendapat sistem keselamatan ABS dari Bosch.

sumber: Tempo

Sei Giorni, Vespa Legendaris

VESPA SEI GIORNI
VESPA SEI GIORNI
Vespa memberikan kejutan dengan meluncurkan edisi spesial dari salah satu legendanya di dunia balap, yakni “Sei Giorni”. Model yang tenar di tahun 1951 ini dikembangkan khusus untuk mengikuti kompetisi balap selama enam hari dan sukses memenangkan sembilan medali emas.

Dilansir dari Autoevolution, model Sei Giorni yang saat ini diluncurkan diadaptasi ke salah satu generasi modern, yakni Vespa GTS. Sentuhan klasik untuk merepresentasikan gaya khasnya yang disebut “Six Days” cukup kental tertuang, termasuk dari kelir warna bodinya. Meski bertema lawas, namun tetap ada sentuhan kesan ke kinian seperti adanya pemasangan low monted optical pada fender depan. Sedangkan untuk posisi setang dibuat mengikut gaya Sei Giorni dengan model yang datar.

Padanan retro modern kental terlihat dari panel instrumen dengan desain melingkar dan bentuk speedometer yang sengaja menggunakan model analog dengan latar belakang. Namun begitu tetap dilengkapi dengan indikator modern sebagai saran informasi bagi pengendaranya. Jok tunggal yang dilapisi kulit juga menjadi salah satu ciri khas dari gaya Six Days yang kemudian diberikan sentuhan Vespa Racing Team livery dari tahun 1950-an. Mulai dari pelek berwarna hitam, exhaust, panel, dan detail-detail kecil lainnya.

Tidak seperti model balapnya, Vespa GTS Sei Giorni edisi khusus ini lebih modern dengan berbagai fitur yang menjadi kelengkapan standarnya. Mulai dari koneksi USB di dalam kompartemen, sistem pengereman yang menggunakan anti-lock breaking system (ABS), serta lampu LED.

Vespa GTS Sei Giorni akan dilengkapi dengan windshield, kompartemen berkapasitas 42 lliter, rak bagasi depan dan belakang, penutup termal, serta perangkan anti-maling melalui Tom Tom Vio GPS.

Beda dengan model lawasnya yang dilengkapi dengan mesin dua tak berkapasitas 125 cc, untuk Sei Giorni versi GTS saat ini sudah ditunjang dengan mesin empat tak 300 cc bertenaga 21 tk dan torsi 22 Nm. Transmisnya juga tak lagi menggunakan manual, tapi sudah mengadopsi CVT.

Sumber: kompas.com