Siang begitu terik, pria paruh baya itu mengelap dahi yang basah oleh keringat dengan lengan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk memegang busi yang baru saja dibersihkannya. Sesekali jongkok, mengutak-atik mesin di pantat kanan vespa, dan menstater skuter sekuat tenaga. Beberapa pengguna jalan hanya lewat, mengacuhkannya dan berlalu. Beberapa pejalan kaki menyapanya dan terus berjalan. Sudah lebih dari 1 jam pria asal Solo itu terduduk di pinggir jalan di samping vespa tuanya, tidak meratapi vespa tuanya yg mogok, tapi mengamati apa yang salah dengan vespanya.

Lepas Dhuhur seorang pengendara vespa melewati jalan yang sama, berhenti tepat di belakang vespa yg mogok, saling menyapa, melempar senyum dan berjabat tangan. Tak lama, keduanya asyik ngobrol sambil mengotak-atik vespa yang akhirnya bisa kembali melibas jalanan. Tak ada uang, tak ada pamrih, hanya ada persaudaraan.

Kisah kecil di atas adalah satu aksi solidaritas antarpengendara vespa yang jarang dijumpai pada pengendara motor lain(merk jepang). Aksi saling bantu ini reflek dilakukan skuteris tanpa melihat komunitas, asal daerah, jenis vespa, gender bahkan strata sosial. Kekompakan pengendara vespa ini adalah bukti nyata dari slogan mereka, satu vespa sejuta saudara.

Solidaritas skuteris tak hanya terlihat dari cara mereka saling bantu di jalanan, tapi juga saling menyapa. Entah hanya dengan membunyikan klakson, mengacungkan jempol atau sekedar melempar senyum, semuanya dilakukan tanpa beban dan riang.

Solidaritas/kode etik tak tertulis antarpengendara vespa ini bisa kita jumpai di setiap daerah di Indonesia tanpa batasan apapun. Hebatnya, aksi ini berawal dari hati dan kuatnya persaudaraan pengendara vespa.

Pengguna vespa ya begitu itu, semua buat teman. Mogok ya dibantu, bisa bantu tenaga atau sedikit receh buat beli ini dan itu. Saya sih ga pernah ngrasa rugi bantuin vespa mogok. Itung-itung nambah teman dan sodara. Dia hepi, saya juga hepi, ya klop dah,” ujar Arif Rengat, seorang pengendara vespa dan penggiat komunitas Vespa di Malang.

Info senada juga diamini oleh Mas Tutang, skuteris anggota BSC (Banyuwangi Scooter Club) yang dijumpai team Vespapora saat turing ke Surabaya awal April lalu. Bagi Tutang, membantu teman skuteris yang mogok di jalanan bukan sekedar menambah teman tapi juga memberi contoh bagi pengendara motor selain vespa.

Saat ini etika pengguna jalan sudah jauh berbeda. Banyak yg ugal-ugalan dan tak ada tepo sliro di jalanan. Saya harap pengendara vespa tidak melupakan atau mengkhianati etika berkendara yang sudah dibangun para skuteris pengendara vespa sejak lama. Berikan contoh kepada pengendara lain, bahwa solidaritas di jalanan bukan hanya milik skuteris, tapi semua pengguna jalan,” harap pria yang sudah mengendarai vespa sejak  lebih dari 25 tahun ini.

Tutang dan Arif adalah satu dari sekian banyak pengguna vespa yang sangat menghormati pengguna jalan. Seharusnya slogan satu vespa sejuta saudara bisa digunakan oleh pengendara motor lain untuk tertib di jalanan. Jika para skuteris bisa berlaku santun di jalanan, bagaimana dengan Anda?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *